Ketika Cemas Berubah Menjadi Rasa Hopeless
Hi readers,
Ada masa ketika aku merasa pikiranku sendiri terlalu ramai.
Hal-hal kecil bisa terasa begitu besar. Kesalahan yang sebenarnya bisa diperbaiki terus terulang di kepala. Perkataan orang lain bisa dipikirkan berkali-kali. Bahkan ketika tidak ada masalah yang sedang terjadi, tubuh dan pikiran tetap seperti berada dalam keadaan waspada.
Itulah sedikit gambaran tentang bagaimana rasanya hidup dengan gangguan kecemasan.
Dan belakangan ini, aku sedang berada di fase yang lebih berat. Bukan hanya cemas, tetapi juga merasa sangat lelah, kehilangan semangat, dan hopeless.
Apa Itu Gangguan Kecemasan?
Gangguan kecemasan bukan sekadar "terlalu banyak pikiran" atau kurang bersyukur.
Kecemasan memang merupakan respons alami tubuh ketika menghadapi ancaman atau tekanan. Namun, pada gangguan kecemasan, rasa takut atau khawatir bisa menjadi berlebihan, sulit dikendalikan, dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.
Bentuknya juga tidak selalu sama.
Pada satu orang mungkin muncul sebagai overthinking. Pada orang lain bisa berupa jantung berdebar, gemetar, sulit berkonsentrasi, sulit tidur, rasa takut melakukan kesalahan, atau keinginan untuk menghindari situasi tertentu.
Kadang-kadang orang yang mengalaminya bahkan terlihat baik-baik saja dari luar.
Padahal di dalam kepala sedang terjadi banyak sekali hal.
Ketika Kecemasan Membuat Kita Lelah
Menurutku, salah satu bagian tersulit bukan hanya rasa cemasnya.
Tetapi rasa lelah karena harus terus menghadapi kecemasan itu.
Setiap hari rasanya seperti harus mengumpulkan tenaga untuk melakukan hal-hal yang bagi orang lain mungkin terlihat sederhana.
Bekerja.
Berkomunikasi.
Menyelesaikan tugas.
Mengambil keputusan.
Bahkan sekadar menjalani hari.
Ketika kecemasan berlangsung lama, kita bisa merasa seperti kehilangan energi mental.
Dan ketika energi itu terus terkuras, muncul pertanyaan:
"Sampai kapan aku harus begini?"
Saat Kecemasan Bertemu dengan Rasa Hopeless
Aku sedang belajar bahwa rasa hopeless bisa terasa sangat berat.
Ada hari ketika aku tidak melihat masa depan dengan jelas. Rasanya sulit membayangkan keadaan akan menjadi lebih baik.
Aku bisa saja tahu secara logika bahwa masalah pasti bisa dicari jalan keluarnya.
Tetapi ketika sedang berada di titik paling lelah, logika tidak selalu terasa cukup.
Yang ada hanya perasaan:
"Aku capek."
"Aku sudah berusaha."
"Kenapa rasanya tidak kunjung membaik?"
Dan menurutku, perasaan seperti itu tidak perlu disembunyikan hanya karena kita takut dianggap lemah.
Depresi Bukan Berarti Kita Gagal
Saat seseorang mengalami fase depresi, kehilangan motivasi bukan berarti dia malas.
Sulit berkonsentrasi bukan selalu berarti tidak mampu.
Menangis bukan berarti terlalu sensitif.
Dan merasa lelah menjalani semuanya bukan berarti seseorang tidak menghargai hidupnya.
Kondisi mental bisa memengaruhi cara kita berpikir, merasakan sesuatu, tidur, makan, berkonsentrasi, bekerja, dan berinteraksi dengan orang lain.
Karena itu, menurutku penting untuk berhenti menyalahkan diri sendiri hanya karena kita sedang tidak mampu menjadi versi diri yang biasanya.
Ada masa untuk berlari.
Ada juga masa ketika kita hanya mampu berjalan pelan.
Dan mungkin, untuk sementara waktu, berjalan pelan pun sudah cukup.
Aku Masih Belajar Memahami Diriku Sendiri
Aku tidak menulis ini sebagai seseorang yang sudah sembuh dan mempunyai semua jawabannya.
Justru aku menulis karena aku masih belajar.
Belajar memahami kenapa aku bisa merasa cemas.
Belajar menerima bahwa kondisi mental memang bisa naik turun.
Belajar membedakan antara apa yang benar-benar terjadi dan apa yang sedang dibesar-besarkan oleh rasa takut di dalam kepala.
Dan yang paling sulit:
belajar untuk tidak membenci diri sendiri ketika sedang tidak baik-baik saja.
Aku juga belajar bahwa mendapatkan bantuan profesional bukan tanda kegagalan.
Psikolog dan psikiater ada bukan hanya untuk orang yang kondisinya sudah sangat parah. Kita juga boleh mencari bantuan ketika merasa kehidupan sehari-hari mulai terasa terlalu berat untuk dijalani sendirian.
Untuk Kamu yang Sedang Mengalami Hal yang Sama
Kalau kamu sedang membaca tulisan ini sambil merasa sangat lelah, aku ingin bilang satu hal:
Kamu tidak harus menyelesaikan seluruh hidupmu hari ini.
Mungkin hari ini cukup mandi.
Cukup makan.
Cukup minum obat sesuai resep dokter.
Cukup menyelesaikan satu pekerjaan.
Cukup tidur lebih awal.
Atau cukup bertahan sampai besok.
Tidak semua hari harus produktif.
Tidak semua hari harus penuh pencapaian.
Ada hari ketika bertahan melewati hari itu sendiri sudah merupakan sesuatu yang berarti.
Dan kalau rasa hopeless yang kamu alami semakin berat, terutama jika muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau mengakhiri hidup, jangan menghadapi itu sendirian. Segera hubungi orang yang kamu percaya dan cari bantuan profesional atau layanan darurat setempat.
Aku Tidak Tahu Kapan Fase Ini Akan Berakhir
Jujur, aku juga tidak punya jawaban pasti.
Aku tidak tahu kapan rasa cemas ini akan jauh lebih ringan.
Aku tidak tahu kapan semangatku akan kembali sepenuhnya.
Aku juga tidak tahu apakah prosesnya akan berjalan lurus atau justru naik turun.
Tapi mungkin aku tidak harus mengetahui semuanya sekarang.
Untuk saat ini, aku hanya ingin mencoba menjalani satu hari demi satu hari.
Karena mungkin harapan tidak selalu datang dalam bentuk perasaan bahagia.
Kadang harapan hanya berupa keputusan kecil untuk mengatakan:
"Hari ini aku coba bertahan lagi."
Dan mungkin, untuk hari ini, itu sudah cukup.
Catatan
Tulisan ini merupakan cerita dan pengalaman pribadi, bukan diagnosis atau pengganti konsultasi dengan psikolog maupun psikiater. Gangguan kecemasan dan depresi dapat memiliki gejala serta tingkat keparahan yang berbeda pada setiap orang. Jika kondisi mental mulai mengganggu aktivitas sehari-hari atau terasa semakin berat, pertimbangkan untuk mendapatkan bantuan profesional.
Terima kasih sudah membaca,
See you soon :)
Comments
Post a Comment
Terima Kasih sudah berkunjung ke Diah's Blog.
Silahkan berikan komentar dengan bahasa yang sopan dan tidak mengandung unsur SARA.