Berkebaya di Hari Raya Suci dan Maknanya

Hi readers, 
Sebelumnya mau mengucapkan Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan, untuk umat Hindu se-dharma Indonesia. 

Sebagai orang Bali dan Hindu, dua identitas ini melekat sekali dalam kebudayaanku. 
Salah satunya, berkebaya. 

Tidak hanya sebuah pakaian, tetapi menjadi ciri khas. Berkebaya jika di dunia fashion makin banyak desainnya.

Aku cukup mengikuti trend kebaya Bali sih, kebaya kutu baru, kebaya kartini, kebaya lengan lonceng, atau yang terbaru kebaya Sanghai. 

Semuanya dimodifikasi dari model Jawa hingga kerah model China. 
Ya cocok aja sih dan ada marketnya. 

Tapi apakah berkebaya harus baru? Ya ngga juga, itu balik kepribadi. Kalo aku kali ini sih upgrade size dari M ke L. WALAHHH... 

Beberapa waktu lalu, ada opini publik tentang kebaya dan gaya hidup perempuan Bali. 
Katanya, kami itu tidak beruntung menjadi perempuan Bali karena memikul tanggung jawab yang besar. 

Tetapi yang aku tahu dari filosofi memakai kamen (kain) pun kami memaknai fungsi pradana seorang perempuan Bali. Lilitan kain dari kanan ke kiri, seorang pradana menjadi pengingat suami ketika melenceng dari dharma. 

Kemudian berkembang di masyarakat menjadi : -perempuan Bali harus berpenghasilan supaya tidak diremehkan dalam sosial
-perempuan Bali harus memiliki anak kandungnya agar bisa melanjutkan keturunan suami (patrilinial) 
-perempuan Bali harus rajin (bangun paling pertama tidur paling akhir) 
-perempuan Bali harus pandai bersosialisasi (sistem ngayah, membantu membantu persiapan upacara adat dan keagamaan) 

Tetapi jika kita melihat dari dua sisi, ada dampak positif bahwa hal ini akhirnya disuarakan di media sosial. Artinya sudah mulai ada kepedulian dan harapan untuk perubahan. Semoga ya

Di sisi lain, nampaknya negatif seperti berat sebelah ya. 










Comments

Jangan lupa subcribe